BAB
1
PENALARAN
ILMIAH
Penalaran
adalah sebagian hasil dari cara kita berfikir, penalaran biasanya berhubungan
dengan logika. Penalaran berkaitan erat dengan bagaimana manusia mencapai
kesimpulan-kesimpulan tertentu baik dari premis langsung maupun tidak langsung.
Penalaran dan pemecahan masalah biasanya adalah topik-topik yang sangat erat
hubungannya dengan aspek-aspek yang secara umum berhubungan dengan berpikir.
© Pengertian Proposisi
Proposisi adalah sebuah karya
tulis akan selalu berisi ide atau konsep yang ditawarkan oleh penulisnya.Untuk menghidangkan ide dan konsep itu seorang penulis menggunakan
kata-kata yang disusus sedemikian rupa untuk membentuk sebuah kalimat yang
memiliki makna tertentu. Pada kalimat-kalimat ini terdapat sebuah logika yang
akan diterima oleh pembaca. Dalam peroses penalaran ini pembaca akan menerima
data atau fakta yang benar dan tentu saja akan menolak data atau fakta yang
belum jelas kebenarannya dan tidak dapat diterima logika.
Proposisi
ini terbangun karena adanya unsur yang
disebut term.
Term
adalah kata atau kelompok kata yang dapat dijadikan subjek atau predikat dalam
sebuah kalimat proposisi.
Jadi,
proposisi adalah pernyataan tentang hubungan yang terdapat dalam subjek dan
predikat.
Contoh:
Bentuk
Proposisi Ã
Semua kaca bisa pecah
Bentuk
Term Ã
Semua kaca dan Bisa pecah
© Jenis-Jenis Proposisi
Proposisi
dibagi menjadi 4 kriteria:
a. Berdasarkan Bentuk
Proposisi
dapat dibedakan ke dalam proposisi tunggal dan proposisi majemuk.
Proposisi
tunggal merupakan proposisi yang terdiri atas satu pernyataan.
Proposisi
majemuk merupakan proposisi yang memuat dua (atau lebih) pernyataan dalam satu
kalimat.
Contoh:
Pernyataan
1 : Semua pelajar harus giat menuntut ilmu
Pernyataan
2 : Semua pelajar harus berdisiplin
Jadi,
Semua pelajar harus giat menuntut ilmu dan berdisiplin.
b. Berdasarkan Sifat
Proposisi
dapat dibedakan ke dalam proposisi kategorial dan proposisi kondisional.
Proposisi
kategorial : Hubungan subjek dan
predikat terjadi dengan tanpa syarat.
Contohnya,
Semua kaca bisa pecah
Proposisi
kondisional : Hubungan subjek dan predikat terjadi dengan syarat.
Contohnya,
Kalau tidak dipotong, rambut akan panjang.
Pada
proposisi terdapat bagian yang dijadikan penyebab dan bagian yang dijadikan
sebagai akibat.
Bagian
penyebab disebut “anteseden” dan bagian akibat disebut “konsekuen”.
Anteseden
harus mendahului konsekuen.
Terdapat
2 macam proposisi kondisional:
a.
Contoh proposisi kondisional hipotesis
Kalau
tidak dipotong, rambut akan panjang.
b.
Contoh proposisi kondisional disjugtif
Ws
Rendra adalah seorang sastrawan atau budayawan
Proposisi kondisional disjugtif yaitu
proposisi kondisional yang mengemukakan pilihan. Biasanya ditandai dengan kata “atau”
pada kalimatnya.
c. Berdasarkan Kualitas
Proposisi
dibedakan menjadi:
a.
Proposisi positif (afirmatif)
Adalah
proposisi yang membenarkan adanya persesuaian antar subjek dan predikat.
Contohnya,
Mahasiswa adalah kaum terpelajar
b.
Proposisi negatif
Adalah
proposisi yang menyatakan bahwa antara subjek dan predikat tidak ada hubungannya
Contohnya,
Sebagian buah tidak berasa manis
d. Berdasarkan Kuantitas
Proposisi
dibedakan menjadi:
a.
Proposisi Universal
Pada
proposisi ini bahwa predikat membenarkan atau mengingkari seluruh objek,
Contohnya,
Semua yang belajar di perguruan tinggi adalah mahasiswa.
b.
Proposisi Khusus
Pada
proposisi ini bahwa predikat membenarkan atau mengingkari sebagian subjek,
Contohnya,
Tidak satupun binatang di Taman Safari dibiarkan kelaparan.
Beberapa
kata yang menjadi tanda sebuah proposisi universal, antara lain:
a.
Universal positif Ã
Semua, Setiap, Masing-Masing, Apapun
b.
Universal negatif Ã
Tidak satupun, Tidak sedikitpun, Tak seorangpun.
Beberapa
kata yang menjadi tanda sebuah proposisi khusus, antara lain:
a.
Universal positif Ã
Sebagian, Beberapa, Sering, Kadang-Kadang
b.
Universal negatif à Tidak semua,
Tidak seluruhnya
©
Inferensi dan Implikasi
Inferensi adalah tindakan atau proses yang berasal dari
kesimpulan logis dari premis-premis yang diketahui atau dianggap benar.
Kesimpulan yang ditarik disebut idiomatik.
©
Contoh Inferensia
a.
Semua manusia fana
Socrates adalah seorang pria
Jadi, Socrates adalah fana
b.
Semua apel biru
Pisang adalah apel
Jadi, Pisang berwarna biru.
Inkoherensi: Tidak ada definisi inferensia deduktif telah
ditawarkan. Definisi yang ditawarkan adalah untuk inferensi induktif. Filsuf
yunani didefinisikan sejumlah silogisme ,
bagian tiga kesimpulan yang benar, yang dapat digunakan sebagai blok bangunan
untuk penalaran yang lebih kompleks.
Validitas tergantung pada bentuk kesimpulan. Inferensia
dapat “berlaku” bahkan jika bagian yang palsu, dan dapat tidak valid bahkan
jika bagian-bagian yang benar. Tapi bentuk yang valid dengan premis-premis yang
benar akan selalu memiliki kesimpulan yang benar. Maksud kata “berlaku” tidak
mengacu pada kebenaran atau kesimpulan tempat, melainkan dengan bentuk
kesimpulan.
©
Implikasi
Pada dasarnya implikasi bisa kita definisikan sebagai
akibat langsung atau konsekuensi atas temuan hasil suatu penelitian. Akan
tetapi secara bahasa memiliki arti sesuatu yang telah tersimpul di dalamnya. Di
dalam konteks penelitian sendiri, implikasi bisa di lihat. Apabila dalam sebuah
penelitian kita mempunyai kesimpulan misalnya “A”, “Manusia itu bernafas”. Maka
“Manusia itu bernafas” yang kita sebut dengan implikasi penelitian. Untuk
contohnya, dalam hasil penelitian kita menemukan bahwa siswa yang di ajar
dengan metode “A” lebih kreatif serta memiliki skill yang lebih baik.
Dengan demikian dengan menggunakan metode belajar “A”
kita bisa mengharapkan siswa menjadi lebih kreatif dan juga memiliki skill yang
baik. Setelah itu perlu juga untuk dihubungkan dengan konteks penelitian yang
telah kita bangun. Contohnya, sampelnya kelas berapa? seperti apa karakteristik
sekolah? ada berapa sampel? dan lain-lainnya. Nah, memang sudah seharusnya
implikasi penelitian di lakukan secara spesifik layaknya karakteristik di atas.
©
Wujud
Evidensi
Adalah semua fakta yang ada, yang dihubung-hubungkan
untuk membuktikan adanya sesuatu. Evidensi merupakan hasil pengukuan dan
pengamatan fisik yang digunakan untuk memahami suatu fenomena. Evidensi sering
juga disebut bukti empiris. Akan tetapi pengertian evidensi ini sulit untuk
ditentukan secara pasti, meskipun petunjuk kepadanya tidak dapat dihindarkan.
Kita mungkin mengartikannya sebagai “cara bagaimana
kenyataan hadir” atau perwujudan dari ada bagi akal”. Misal Mr.A mengatakan
“Dengan pasti ada 301.614 ikan di Jogja”, apa komentar kita? Tentu saja kita
tidak hanya mengangguk dan mengatakan “fakta yang menarik”. Kita akan
mengernyitkan dahi terhadap keberanian orang itu untuk berkata demikian.
Tentu saja reaksi kita tidak dapat dilukiskan sebagai
“kepastian”, Tentu saja kemungkinan untuk benar tidak dapat di kesampingkan,
bahwa dugaan ngawur atau ngasal telah menyatakan jumlah yang persis. Tetapi
tidak terlalu sulit bagi kita untuk menangguhkan persetujuan kita mengapa ?
Karena evidensi memadai untuk menjamin persetujuan jelaslah tidak ada.
Kenyataannya tidak ada dalam persetujuan terhadap pernyataan tersebut.
Sebaliknya, kalau seorang mengatakan mengenai ruang di
mana saya duduk, “Ada tiga jendela di dalam ruang ini,” persetujuan atau
ketidak setujuan saya segera jelas. Dalam hal ini evidensi yang menjamin
persetujuan saya dengan mudah didapatkan.
Dalam wujud yang paling rendah. Evidensi itu berbentuk
data atau informasi. Yang di maksud dengan data atau informasi adalah bahan
keterangan yang di peroleh dari suatu sumber tertentu.
©
Cara
Menguji Data
Data dan informasi yang digunakan dalam penalaran harus
merupakan fakta. Oleh karena itu perlu diadakan pengujian melalui cara-cara
tertentu sehingga bahan-bahan yang merupakan fakta itu siap digunakan sebagai
evidensi. Dibawah ini beberapa cara yang dapat digunakan untuk pengujian
tersebut.
1.
Observasi
2.
Kesaksian
3.
Autoritas
©
Cara
Menguji Fakta
Untuk menetapkan apakah data atau informasi yang kita
peroleh itu merupakan fakta, maka harus diadakan penilaian. Penilaian tersebut
baru merupakan penilaian tingkat pertama untuk mendapatkan keyakitan bahwa
semua bahan itu adalah fakta, sesudah itu pengarang atau penulis harus
mengadakan penilaian tingkat kedua yaitu dari semua fakta tersebut dapat
digunakan sehingga benar-benar memperkuat kesimpulan yang akan diambil.
1.
Konsistensi
2.
Koherensi
© Cara Menilai Autoritas
Seorang penulis yang
objektif selalu menghidari semua desas-desus atau kesaksian dari tangan kedua.
Penulis yang baik akan membedakan pula apa yang hanya merupakan pendapat saja
atau pendapat yang sungguh-sungguh didasarkan atas penelitian atau data eksperimental.
1.
Tidak mengandung prasangka
2. Pengalaman dan
pendidikan autoritas
3. Kemashuran dan
prestise
4.
Koherensi dengan kemajuan
.
BAB
2
BERPIKIR
DEDUKTIF
© Cara berpikir
deduktif:
Metode
berpikir deduktif adalah suatu metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang
umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagian yang
khusus.
© Unsur-Unsur
yang terdiri atas beberapa unsur, yaitu:
a.
Data pemikiran utama (Premis mayor)
Contoh:
Semua siswa SMA yang berjenis kelamin wanita wajib mengikuti pelajaran
keputrian
b.
Dasar pemikiran kedua (Premis Minor)
Contoh:
Rahma adalah siswa SMA yang berjenis kelamin wanita
c.
Kesimpulan
Contoh:
Rahma wajib mengikuti jam pelajaran keputrian
© Cara berpikir
induktif:
Metode
berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak
dari hal-hal yang bersifat khusus untuk menentukan kesimpulan yang bersifat
umum.
Contoh:
Bukti
1 :
Logam 1 apabila dipanaskan akan memuai
Bukti
2 :
Logam 2 apabila dipanaskan akan memuai
Bukti
3 : Logam 3 apabila dipanaskan
akan memuai
Kesimpulan
: Semua logam apabila dipanaskan akan memuai
© Pendekatan Ilmiah
Metode
berpikir pendekatan ilmiah adalah penalaran yang menggabungkan cara berpikir
deduktif dengan cara berpikir induktif. Dalam pendekatan ilmiah, penalaran
disertai dengan suatu hipotesis.
Contoh:
Siswa
yang apabila sebelum berangkat sekolah telah sarapan terlebih dahulu dalam
porsi yang banyak, dia tidak akan kelaparan hingga jam pelajaran berakhir.
Deduktif:
Setiap anak yang makan banyak tidak akan cepat lapar.
Maka,
kita ajukan hipotesis bahwa siswa akan cepat lapar jika makanan yang dimakan
kurang memenuhi standar gizi dan energi yang dihasilkan oleh makanan tersebut.
Induktif
: Diuji untuk mengetahui apakah hasil pengujian mendukung atau tidak mendukung
hipotesis yang diajukan tersebut.
©
Paragraf Silogisme
Paragraf
Silogisme adalah sebuah paragraf yang dikembangkan dengan menggunakan pola
pikir silogisme.
Sologisme
adalah pola pikir yang bertolak dari dua buah premis, yaitu
pernyataan-pernyataan yang mendahului, kemudian ditarik sebuah kesimpulan yang
secara logis sesuai dengan premis-premis tersebut.
Pola pengembangan silogisme adalah penarikan simpulan
berdasarkan dua premis dengan rumus silogisme: PU:A=B dan
sebuah kesimpulan. Dua premis tersebut adalah premis umum (PU) dan premis
khusus (PK). Berikut pengertian dari kedua premis:
·
Premis umum : Berupa pernyataan yang menyatakan sebuah kelompok atau kumpulan
tertentu yang memiliki ciri atau sifat tertentu.
·
Premis khusus : Berupa pernyataan yang menyatakan salah satu anggota dari suatu
kelompok tersebut.
·
Kesimpulan : Kesimpulan yang menyatakan bahwa salah satu anggota kelompok
memiliki ciri atau sifat pada kelompok tersebut.
©
Rumus Silogisme:
PU : A = B
PK : C = A
K : C = B
©
Contoh Silogisme:
PU : Mamalia berkembang biak dengan cara
melahirkan anaknya
PK : Sapi adalah hewan mamalia
K : Sapi berkembang biak dengan cara
melahirkan
Semua hewan mamalia
berkembang biak dengan proses mengandung dan melahirkan anak-anaknya. Hal ini
dikarenakan mereka memiliki kelenjar sus yang ada pada bagian tubuhnya.
Sementara itu, sapi adalah salah satu jenis hewan mamalia berkaki empat. Oleh
karena itu, sapi berkembang biak dengan cara melahirkan anak-anaknya.
©
Jenis-Jenis Paragraf Silogisme:
a.
Paragraf
Silogisme Kategorial
Paragraf ini dikembangkan dengan
silogisme kategorial, yaitu silogisme yang premis mayornya berupa kategorial
dan menjadi predikat. Sedangkan premis minornya menjadi subjek.
Contoh(1):
PU :
Semua makhluk hidup memerlukan makanan
PK :
Tumbuhan bisa bernafas dan berkembang biak
K :
Tumbuhan memerlukan makanan
Semua makhluk hidup yang ada di dunia ini memerlukan makanan
untuk bertahan hidup. Sementara itu, tumbuhan memiliki ciri-ciri sebagai
makhluk hidup, yaitu bernafas dan berkembang biak. Oleh sebab itulah, tumbuhan
juga memerlukan makanan karena merupakan salah satu makhluk hidup.
Contoh(2):
PU :
Semua manusia adalah makhluk mulia
PK :
Anis adalah manusia
K :
Anis adalah makhluk mulia
b.
Paragraf
Silogisme Hipotetik
Paragraf ini menggunakan pola silogisme
hipotetik, yaitu silogisme yang premis mayornya berupa argument atau pendapat
atau silogisme yang premis umumnya berupa keputusan hipotesis dan premi
khususnya merupakan pernyataan kategoris.
Contoh(1):
PU :
Apabila besok hujan, saya tidak akan datang
PK :
Hari ini hujan
K :
Hari ini hujan, saya tidak datang
Saya telah berjanji dengannya bahwa apabila hari esok hujan,
saya tidak akan datang ke rumahnya. Pada akhirnya, hari ini hujan turun dengan
sangat deras. Makanya saya tidak bisa menepati janji untuk datang ke rumahnya.
c.
Paragraf
Silogisme Alternatif
Paragraf ini dikembangkan dengan pola
silogisme alternatif, yaitu silogisme yang premis umumnya merupakan sebuah
pilihan, premis khususnya membenarkan salah satu alternatifnya, dan
kesimpulannya menolak alternatif yang lain.
Contoh(1):
PU :
Budi bersekolah di SMA atau SMP
PK :
Budi bersekolah di SMA
K :
Budi tidak bersekolah di SMP
Karena badannya yang besar, orang-orang bingung apakah Budi
pelajar SMA atau SMP, Budi belajar di SMA Teladan. Oleh karena itu, Budi
bukanlah pelajar SMP.
Contoh(2):
PU :
Ibu memakai bedak atau lipstik
PK :
Ibu memakai lipstik
K :
Ibu tidak memakai bedak
©
Paragraf Entimen:
Entimen
adalah sebuah silogisme yang dipendekkan.
Entimen
adalah kesimpulan dari silogisme.
Entimen
adalah sebuah kalimat kesimpulan bukan paragraf.
Contoh(1):
PU : Anak yang pintar selalu
rajin membaca
PK : Anis adalah anak yang
pintar
K : Anis rajin membaca
Entimen : Anis rajin membaca, karena ia anak
pintar
Contoh(2(dari contoh silogisme
alternatif)):
PU : Budi bersekolah di SMA atau
SMP
PK : Budi besekolah di SMA
K : Budi tidak bersekolah di
SMP
Entimen : Budi adalah pelajar SMA, karena
bukan pelajar SMP
BAB
3
BERPIKIR
INDUKTIF
Induksi adalah cara mempelajari sesuatu yang
bertolak dari hal-hal atau peristiwa khusus untuk menentukan hukum yang umum (Kamus Umum Bahasa Indonesia, hal 444 W.J.S.Poerwadarminta. Balai
Pustaka 2006)
Induksi merupakan cara
berpikir dimana ditarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus
yang bersifat individual. Penalaran secara induktif dimulai dengan mengemukakan
pernyataan-pernyataan yang mempunyai ruang lingkup yang khas dan terbatas dalam
menyusun argumentasi yang diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum (filsafat ilmu.hal 48 Jujun.S.Suriasumantri
Pustaka Sinar Harapan. 2005)
Jalan induksi mengambil jalan tengah, yakni di antara jalan
yang memeriksa cuma satu bukti saja dan jalan yang menghitung lebih dari satu,
tetapi boleh dihitung semuanya satu persatu. Induksi mengandaikan, bahwa karena
beberapa (tiada semuanya) di antara bukti yang diperiksanya itu benar, maka
sekalian bukti lain yang sekawan, sekelas dengan dia benar pula.
© Metode Berpikir
Induktif
Metode
berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak
dari hal-hal khusus ke umum. Hukum yang disimpulkan difenomena yang diselidiki
berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti.
©
Generalisasi
Contoh:
a. Jika
dipanaskan, besi memuai.
b. Jika
dipanaskan, tembaga memuai.
c.
Jika dipanaskan, emas memuai.
d. Jika
dipanaskan, platina memuai.
e.
Jika dipanaskan, logam memuai.
f.
Jika ada udara, manusia akan hidup.
g.
Jika ada udara, hewan akan hidup.
h. Jika
ada udara, tumbuhan akan hidup.
i.
Jika ada udara mahkluk hidup akan hidup.
Generalisasi
Induktif
Generalisasi
adalah proses penalaran yang bertolak dari fenomena individual menuju
kesimpulan umum.
Contoh:
Tamara Bleszynski adalah bintang iklan, dan ia berparas cantik.
Nia Ramadhani adalah bintang iklan, dan ia berparas cantik.
Generalisasi: Semua bintang
sinetron berparas cantik.
Pernyataan “semua bintang sinetron berparas cantik” hanya
memiliki kebenaran probabilitas karena belum pernah diselidiki kebenarannya.
Contoh
kesalahannya: Omas juga bintang iklan, tetapi tidak berparas cantik.
© Macam-Macam Generalisasi
a. Generalisasi
sempurna
Adalah
generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi dasar
penyimpulan
diselidiki.
Contoh:
sensus penduduk
b. Generalisasi Tidak Sempurna
Adalah generalisasi dimana
kesimpulan diambil dari sebagian fenomena yang diselidiki diterapkan juga untuk
semua fenomena yang belum diselidiki.
Contoh: Hampir seluruh
pria dewasa di Indonesia senang memakai celana pantalon.
©
Hipotesis dan Teori
© Definisi Hipotesis
Hipotesis atau hipotesa adalah jawaban sementara terhadap masalah
yang masih bersifat praduga karena masih harus dibuktikan kebenarannya
Hipotesis
berasal dari bahasa Yunani: hypo = di bawah;thesis =
pendirian, pendapat yang ditegakkan, kepastian.
Artinya,
hipotesa merupakan sebuah istilah ilmiah yang digunakan dalam rangka kegiatan
ilmiah yang mengikuti kaidah-kaidah berfikir biasa, secara sadar, teliti, dan
terarah.Dalam penggunaannya sehari-hari hipotesa ini sering juga disebut dengan
hipotesis, tidak ada perbedaan makna di dalamnya.
© Definisi Teori
Teori adalah serangkaian bagian atau variabel, definisi, dan
dalil yang saling berhubungan yang menghadirkan sebuah pandangan sistematis
mengenai fenomena dengan menentukan hubungan antar variabel, dengan menentukan
hubungan antar variabel, dengan maksud menjelaskan fenomena alamiah. Labovitz
dan Hagedorn mendefinisikan teori sebagai ide pemikiran “pemikiran teoritis”
yang mereka definisikan sebagai “menentukan” bagaimana dan mengapa
variable-variabel dan pernyataan hubungan dapat saling berhubungan.
©
Analogi
Analogi dalam ilmu bahasa adalah persamaan antar bentuk yang
menjadi dasar terjadinya bentuk-bentuk yang lain. Analogi merupakan salah satu
proses morfologi dimana dalam analogi, pembentukan kata baru dari kata yang
telah ada. Contohnya pada kata dewa-dewi, putra-putri, pemuda-pemudi, dan
karyawan-karyawati.
© Jenis-jenis Analogi
a. Analogi induktif:
Yaitu
analogi yang disusun berdasarkan persamaan yang ada pada dua fenomena, kemudian
ditarik kesimpulan bahwa apa yang ada pada fenomena pertama terjadi juga pada
fenomena kedua.
Analogi
induktif merupakan suatu metode yang sangat bermanfaat untuk membuat suatu
kesimpulan yang dapat diterima berdasarkan pada persamaan yang terbukti
terdapat pada dua barang khusus yang diperbandingkan.
Contoh
analogi induktif : Tim Uber
Indonesia mampu masuk babak final karena berlatih setiap hari. Maka tim Thomas
Indonesia akan masuk babak final jika berlatih setiap hari.
b.
Analogi deklaratif:
Analogi
deklaratif merupakan metode untuk menjelaskan atau menegaskan sesuatu yang
belum dikenal atau masih samar, dengan sesuatu yang sudah dikenal. Cara ini sangat bermanfaat karena
ide-ide baru menjadi dikenal atau dapat diterima apabila dihubungkan dengan
hal-hal yang sudah kita ketahui atau kita percayai.
Contoh analogi
deklaratif: Deklaratif untuk
penyelenggaraan negara yang baik diperlukan sinergitas antara kepala negara
dengan warga negaranya. Sebagaimana manusia, untuk mewujudkan perbuatan yang
benar diperlukan sinergitas antara akal dan hati.
©
Hubungan Kausal
Kausalitas merupakan prinsip sebab-akibat yang ilmu dan pengetahuan
yang dengan sendirinya bisa diketahui tanpa membutuhkan pengetahuan dan
perantaraan ilmu yang lain dan pasti antara segala kejadian, serta bahwa setiap
kejadian memperoleh kepastian dan keharusan serta kekhususan-kekhususan
eksistensinya dari sesuatu atau berbagai hal lainnya yang mendahuluinya,
merupakan hal-hal yang diterima tanpa ragu dan tidak memerlukan sanggahan.
Keharusan dan keaslian sistem kausal merupakan bagian dari ilmu-ilmu manusia
yang telah dikenal bersama dan tidak diliputi keraguan apapun.
Kausalitas
dibangun oleh hubungan antara suatu kejadian (sebab) dan kejadian kedua (akibat
atau dampak), yang mana kejadian kedua dipahami sebagai konsekuensi dari yang
pertama.
Kausalitas merupakan asumsi dasar dari ilmu sains. Dalam
metode ilmiah, ilmuwan merancang eksperimen untuk menentukan kausalitas dari
kehidupan nyata. Tertanam dalam metode ilmiah adalah hipotesis tentang hubungan kausal. Tujuan dari metode ilmiah adalah
untuk menguji hipotesis tersebut.
©
Induksi Dalam Metode Eksposisi
Eksposisi adalah
salah satu jenis pengembangan paragraf dalam penulisan yang dimana isinya
ditulis dengan tujuan untuk menjelaskan atau memberikan pengertian dengan gaya
penulisan yang singkat, akurat, dan padat.
Karangan
ini berisi uraian atau penjelasan tentang suatu topik dengan tujuan memberi
informasi atau pengetahuan tambahan bagi pembaca. Untuk memperjelas uraian,
dapat dilengkapi dengan grafik, gambar atau statistik. Sebagai catatan, tidak
jarang eksposisi ditemukan hanya berisi uraian tentang langkah/cara/proses
kerja. Eksposisi demikian lazim disebut paparan proses.
©
Langkah menyusun eksposisi:
a. Menentukan topik/tema
b. Menetapkan tujuan
c.
Mengumpulkan
data dari berbagai sumber
d. Menyusun kerangka karangan sesuai dengan topik yang
dipilih
e.
Mengembangkan
kerangka menjadi karangan eksposisi.
Sumber: