ANALISIS PERLAKUAN AKUNTANSI
PT LOTTE CHEMICAL TITAN NUSANTARA
(Laporan Keuangan yang Berakhir 31
Desember 2013)
MAKALAH
diajukan
guna melengkapi tugas Mata Kuliah Teori Akuntansi
Program
Studi S1 Akuntansi
Kelas
B
Oleh:
Ekaning Pratiwi (130810301091)
JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS JEMBER
2015
Statement of Authorship
“Saya/kami yang
bertandatangan di bawah ini menyatakan bahwa makalah/tugas yang terlampir
adalah murni hasil pekerjaan saya/kami sendiri. Tidak ada pekerjaan orang lain
yang saya/kami gunakan tanpa menyebutkan sumbernya.
Materi ini
tidak/belum pernah disajikan/digunakan sebagai bahan untuk makalah/tugas pada
mata ajaran lain kecuali saya/kami menyatakan dengan jelas bahwa saya/kami
menggunakannya.
Saya/kami
memahami bahwa tugas yang saya/kami kumpulkan ini dapat diperbanyak dan atau
dikomunikasikan untuk tujuan mendeteksi adanya plagiarisme.”
Nama : Ekaning Pratiwi
NIM : 130810301091
Tandatangan : 

Matakuliah : Teori Akuntansi
Judul
Makalah/Tugas : Analisis
Perlakuan Akuntansi pada PT Lotte Chemical Titan Nusantara (Laporan Keuangan
yang Berakhir 31 Desember 2012)
Tanggal : 20 Mei 2015
Dosen : Yosefa Sayekti
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL...................................................................................................... i
HALAMAN STATEMENT OF AUTHORSHIP.......................................................... ii
DAFTAR ISI................................................................................................................... iii
BAB 1. PENDAHULUAN............................................................................................ 1
1.1
Latar Belakang................................................................................................. 1
1.2
Rumusan Masalah............................................................................................ 1
1.3
Tujuan............................................................................................................... 1
1.4
Manfaat............................................................................................................ 1
BAB 2. PEMBAHASAN............................................................................................... 2
2.1
Perlakuan Akuntansi Atas Aset PT Lotte Chemical Titan Nusantara.............. 2
2.2
Perlakuan Akuntansi Atas Liabilitas PT Lotte Chemical Titan Nusantara...... 5
2.3
Perlakuan Akuntansi Atas Ekuitas PT Lotte Chemical Titan Nusantara......... 7
2.4
Perlakuan Akuntansi Atas Pendapatan PT Lotte Chemical Titan Nusantara.. 8
2.5
Perlakuan Akuntansi Atas Beban PT Lotte Chemical Titan Nusantara........... 9
BAB 3. PENUTUP......................................................................................................... 10
LAMPIRAN.................................................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................... 13
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
PT Lotte
Chemical Titan Nusantara-LCTN (“Perusahaan”)
didirikan pada 1990 dengan nama PT Petrokimia Nusantara Interindo yang kemudian
diubah menjadi PT Petrokimia Nusantara pada 2006 dan menjadi PT Lotte Chemical
Titan Nusantara pada 2013. LCTN mengoperasikan 3 lini penghasil High Density
Polyethylene (“HDPE”) dan Linear Density Polyethylene (“LLDPE”) yang merupakan
bahan baku plastik utama yang banyak digunakan di seluruh dunia, dengan jumlah
kapasitas terpasang sebesar 450.000 metrik ton per tahun.
Berdasarkan
Laporan Auditor Independen oleh KAP Osman Bing Satrio & Eny, laporan
keuangan perusahaan dinyatakan menyajikan secara wajar, dalam semua hal material,
posisi keuangan PT Lotte Chemical Nusantara (Sebelumnya PT Titan Petrokimia
Nusantara) tanggal 31 Desember 2013, serta kinerja keuangan dan arus kas untuk
tahun yang berakhir pada tanggal tersebut sesuai dengan Standar Keuangan di
Indonesia.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas, rumusan masalah dalam makalah ini adalah bagaimana perlakuan
akuntansi yang diterapkan PT Lotte Chemical Titan Nusantara (Sebelumnya PT
Titan Petrokimia Nusantara) terhadap komponen keuangannya dalam periode yang
berakhir pada 31 Desember 2013?
1.3 Tujuan
Tujuan dari
penulisan makalah ini adalah untuk dapat mengetahui dan memahami bagaimana
perlakuan akuntansi yang diterapkan PT Lotte Chemical Titan Nusantara terhadap
komponen keuangannya dalam periode yang berakhir pada 31 Desember 2013.
1.4 Manfaat
Manfaat dari
penulisan makalah ini bagi penulis sebagai mahasiswa dan bagi pembaca adalah
dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan mengenai perlakuan akuntansi yang
diterapkan oleh PT Lotte Chemical Titan Nusantara.
BAB
2. PEMBAHASAN
2.1 Perlakuan Akuntansi Atas Aset PT Lotte
Chemical Titan Nusantara
Jumlah Aset
Perusahaan menurun sebesar 21% menjadi USD 300,18 juta dari USD 336,73 juta di
tahun 2012.
Aset
Lancar menurun sebesar 14% dibandingkan tahun 2012. Penurunan ini terutama
disebabkan oleh adanya penurunan dalam Piutang Usaha Pihak Ketiga, Persediaan
dan Pajak Dibayar Dimuka. Namun demikian, hal ini sebagian termitigasi dengan
meningkatnya Piutang Usaha Pihak Berelasi.
Aset
Tidak Lancar menurun sebesar 8% dibandingkan tahun 2012. Penurunan ini terutama
disebabkan oleh penurunan nilai buku atas Aset Tetap karena terjadinya
depresiasi tahunan dan Aset Tetap yang telah terdepresiasi penuh ditambah
penurunan Tagihan Pengembalian Pajak.
Seluruh
aset keuangan diakui dan dihentikan pengakuannya pada tanggal diperdagangkan
dimana pembelian dan penjualan aset keuangan berdasarkan kontrak yang
mensyaratkan penyerahan aset keuangan dalam kurun waktu yang ditetapkan oleh
kebiasaan pasar yang berlaku, dan awalnya diukur sebesar nilai wajar ditambah
biaya transaksi.
Piutang
pelanggan dan piutang lain-lain dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan
dan tidak mempunyai kuotasi di pasar aktif diklasifikasi sebagai “pinjaman yang
diberikan piutang”, yang diukur pada biaya perolehan yang diamortisasi dengan
menggunakan metode suku bunga efektif dikurangi penurunan nilai.
Bunga
diakui dengan menggunakan metode suku bunga efektif, kecuali piutang jangka
pendek dimana pengakuan bungan tidak material.
Metode Suku Bunga
Efektif
Metode
suku bunga efektif adalah metode yang digunakan untuk menghitung biaya
perolehan diamortisasi dan instrumen keuangan dan metode untuk mengalokasikan
pendapatan bungan selama periode yang relevan.
Penurunan nilai aset
keuangan
Aset
keuangan dievaluasi terhadap indikator penurunan nilai pada setiap tanggal
pelaporan. Aset keuangan diturunkan nilainya bila terdapat bukti objektif,
sebagai akibat dari satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan
awal aset keuangan, dan peristiwa yang merugikan tersebut berdampak pada
estimasi arus kas masa depan atas aset keuangan yang dapat diestimasi secara
andal.
Bukti
obyektif penurunan nilai termasuk sebagai berikut:
1. Kesulitan
keuangan signifikan yang dialami penerbit atau pihak peminjam; atau
2. Pelanggaran
kontrak, seperti terjadinya wanprestasi atau tunggakan pembayaran pokok atau
bunga; atau
3. Terdapat
kemungkinan bahwa pihak peminjam akan dinyatakan pailit atau melakukan
reorganisasi keuangan.
Penghentian
pengakuan aset keuangan
Perusahaan menghentikan pengakuan
aset keuangan jika dan hanya jika hak kontraktual atas arus kas yang berasal
dari aset berakhir, atau Perusahaan mentransfer aset keuangan dan secara
substansial mentransfer seluruh risiko dan manfaat atas kepemilikan aset kepada
entitas lain. Jika perusahaan tidak melakukan transfer serta tidak memiliki
secara substansial atas seluruh risiko dan manfaat kepemilikan serta masih
mengendalikan aset yang ditransfer dan liabilitas terkait sebesar jumlah yang
mungkin harus dibayar. Jika Perusahaan memiliki secara substansial seluruh
risiko dan manfaat kepemilikan aset keuangan yang ditransfer, Perusahaan masih
mengakui aset keuangan dan juga mengakui pinjaman yang dijamin sebesar pinjaman
yang diterima.
Kas
dan Setara Kas
Untuk tujuan
penyajian laporan arus kas, kas dan setara kas terdiri dari kas, bank dan semua
investasi yang jatuh tempo dalam waktu tiga bulan atau kurang dari tanggal
perolehannya dan yang tidak dijaminkan serta tidak dibatasi penggunaannya.
Persediaan
Persediaan
dinyatakan berdasarkan biaya perolehan atau nilai realisasi bersih, mana yang
lebih rendah. Biaya perolehan ditentukan dengan metode rata-rata tertimbang.
Nilai realisasi bersih merupakan estimasi harga jual dari persediaan dikurangi
biaya penyelesaian dan estimasi biaya yang diperlukan untuk melakukan
penjualan.
Biaya
Dibayar Dimuka
Biaya dibayar
dimuka diamortisasi selama manfaat masing-masing biaya dengan menggunakan
metode garis lurus.
Aset
Tetap – Pemilikan Langsung
Aset tetap yang
dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa atau
untuk tujuan administratif dicatat berdasarkan biaya perolehan setelah
dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi kerugian penurunan nilai.
Penyusutan
diakui sebagai penghapusan biaya perolehan aset dikurangi nilai residu dengan
menggunakan metode garis lurus berdasarkan taksiran masa manfaat ekonomis aset
tetap sebagai berikut:
Tahun
Bangunan dan prasarana 10 – 30
Mesin dan peralatan pabrik 5 – 30
Perabotan, peralatan kantor 5 – 10
Alat-alat pengangkutan 5 – 10
Masa manfaat
ekonomis, nilai residu dan metode penyusutan direview setiap akhir tahun dan
pengaruh dari setiap perubahan estimasi tersebut berlaku prospektif.
Tanah dinyatakan
sebesar biaya perolehan dan tidak disusutkan.
Beban
pemeliharaan dan perbaikan dibebankan pada laporan laba rugi pada saat
terjadinya. Biaya-biaya lain yang terjadi selanjutnya yang timbul untuk
menambah, mengganti atau memperbaiki aset tetap dicatat sebagai biaya perolehan
aset jika dan hanya jika besar kemungkinan manfaat ekonomis di masa depan
berkenaan dengan aset tersebut akan mengalir ke entitas dan biaya perolehan
aset dapat diukur secara andal.
Aset tetap yang
dihentikan pengakuannya atau yang dijual nilai tercatatnya dikeluarkan dari
kelompok aset tetap. Keuntungan atau kerugian dari penjualan aset tetap
tersebut dibukukan dalam laporan laba rugi.
Aset
dalam penyelesaian dinayatakan sebesar biaya perolehan. Biaya perolehan
tersebut termasuk biaya pinjaman yang terjadi selama masa pembangunan yang
timbul dari utang yang digunakan untuk pembangunan aset tersebut. Aset dalam
penyelesaian mencakup biaya perolehan atas aset berwujud (aset tetap) dan aset
tak berwujud. Akumulasi biaya perolehan akan dipindahkan ke masing-masing aset
tetap dan aset tak berwujud yang bersangkutan pada saat selesai dan siap
digunakan.
Aset
Tak Berwujud – Perangkat Lunak Komputer
Aset
tak berwujud diakui jika, dan hanya jika, biaya perolehan aset tersebut dapat
diukur secara andal dan kemungkinan besar secara andal dan kemungkinan besar
Perusahaan akan memperoleh manfaat ekonomis masa depan dari aset tersebut.
Perangkat
lunak yang bukan merupakan bagian integral dari peranngkat keras yanng terkait
dicatat sebagai aset tak berwujud dan dinyatakan sebesar nilai tercatat, yaitu
sebesar harga perolehan dikurangi dengan akumulasi amortisasi.
Biaya
perolehan perangkat lunak komputer meliputi seluruh biaya yang dapat dikaitkan
langsung sampai aset tersebut siap digunakan dan diamortisasi selama 5 tahun
dengan metode garis lurus.
Penurunan
Nilai Aset Non-Keuangan
Pada setiap
akhir periode pelaporan, Perusahaan menelaah nilai tercatat aset non-keuangan
untuk menentukan apakah terdapat indikasi bahwa aset tersebut telah mengalami penurunan
nilai. Jika terdapat indikasi tersebut, nilai yang dapat diperoleh kembali dari
aset diestimasi untuk menentukan tingkat kerugian penurunan nilai (jika ada).
Bila tidak memungkinkan untuk mengestimasi nilai yang dapat diperoleh kembali
atas suatu aset individu, Perusahaan mengestimasi nilai yang dapat diperoleh
kembali dari unit penghasil kas atas aset.
Perkiraan
jumlah yang dapat diperoleh kembali adalah nilai tertinggi antara nilai wajar
dikurangi biaya untuk menjual dan nilai pakai. Dalam menilai nilai pakai,
estimasi arus kas masa depan didiskontokan ke nilai kini menggunakan tingkat
diskonto sebelum pajak yang menggambarkan penilaian pasar kini dari nilai waktu
uang dan risiko spesifik atas aset yang mana estimasi arus kas masa depan belum
disesuaikan. Jika jumlah yang dapat diperoleh kembali dari aset non-keuangan
(unit penghasil kas) kurang dari nilai tercatatnya, nilai tercatat aset (unit
penghasil kas) dikurangi menjadi sebesar nilai yang dapat diperoleh kembali dan
rugi penurunan nilai diakui langskung ke laba rugi.
Sewa
Sewa
diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan jika sewa tersebut mengalihkan secara
substansial seluruh risiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan aset.
Sewa lainnya, yang tidak memenuhi kriteria tersebut, diklasifikasikan sebagai
sewa operasi.
Pembayaran
sewa operasi diakui sebagai beban dengan dasar garis lurus (straight-line basis) selama masa sewa,
kecuali terdapat dasar sistematis lain yang dapat lebih mencerminkan pola waktu
dari manfaat aset yang dinikmati pengguna. Rental kontijen diakui sebagai beban
di dalam periode terjadinya.
2.2 Perlakuan Akuntansi Atas Liabilitas PT
Lotte Chemical Titan Nusantara
Terkait Jumlah
Liabilitas, jumlah keseluruhan menurun sebesar 13% menjadi USD 200,22 juta dari
USD 228,96 juta di tahun 2012. Ini terutama disebabkan oleh penurunan dalam
Liabilitas Jangka Pendek yang termitigasi dengan terjadi kenaikan Liabilitas
Jangka Panjang.
Liabilitas
Jangka Pendek menurun sebesar 19% dibandingkan tahun 2012. Ini disebabkan oleh
penurunan Utang secara keseluruhan terutama Utang Pihak Berelasi. Namun, ini
termitigasi dengan kenaikan Uang Muka Penjualan dan Biaya Masih Harus Dibayar.
Liabilitas
Jangka Panjang meningkat sebesar 2% dibandingkan tahun 2012. Ini terutama
disebabkan oleh kenaikan Instrumen Keuangan Derivatif yang termitigasi dengan
penurunan Utang Obligasi dan Sukuk Ijarah (dalam mata uang rupiah) yang dipicu
melemahnya nilai tukar Rupiah di tahun 2013.
Provisi
diakui ketika Perusahaan memiliki kewajiban kini (baik bersifat hukum maupun
bersifat kontruktif) sebagai akibat peristiwa masa lalu, kemungkinan besar Perusahaan
diharuskan menyelesaikan kewajiban dan estimasi yang andal mengenai jumlah
kewajiban tersebut dapat dibuat.
Jumlah
yang diakui sebagai provisi adalah hasil estimasi terbaik pengeluaran yang
diperlukan untuk menyelesaikan kewajiban kini pada akhir periode pelaporan,
dengan mempertimbangkan risiko dan ketidakpastian yang meliputi kewajibannya.
Apabila suatu provisi diukur menggunakan arus kas yang diperkirakan untuk
menyelesaikan kewajiban kini, maka nilai tercatatnya adalah nilai kini dari
arus kas.
Liabilitas
keuangan yang diterbitkan oleh Perusahaan diklasifikasi sesuai dengan substansi
perjanjian kontraktual dan definisi liabilitas keuangan.
Liabilitas
keuangan Perusahaan diklasifikasi baik sebagai liabilitas keuangan dalam FVTPL
atau liabilitas keuangan lainnya.
Liabilitas keuangan
dalam nilai wajar melalui laporan kaba rugi (FVTPL)
Derivatif
yang tidak ditetapkan dan tidak efektif sebagai instrumen lindung nilai
diklasifikasi sebgaai FVTPL.
Liabilitas
keuangan dalam FVTPL dinyatakan dalam nilai wajar, keuntungan atau kerugian
yang timbul diakui dalam laporan laba rugi. Keuntungan atau kerugian bersih
yang diakui dalam laba rugi mencakup setiap bunga yang dibayar dari liabilitas
keuangan.
Liabilitas keuangan
lainnya
Utang
usaha dan utanng lain-lain, utang obligasi dan pinjaman lainnya pada awalnya
diukur pada nilai wajar, setelah dikurangi biaya transaksi, dan selanjutnya
diukur pada biaya perolehan yang diamortisasi dengan menggunakan metode suku
bunga efektif.
Selisih
antara hasil emisi (setelah dikurangi biaya transaksi) dan penyelesaian atau
pelunasan pinjaman diakui selama jangka waktu pinjaman.
Sukuk
ijarah diakui sebesar nilai nominal, disesuaikan dengan premium atau diskonto,
dan biaya transaksi terkait dengan penerbitannya.
Setelah
pengakuan awal, jika jumlah tercatat berbeda dengan nilai nominal disebabkan
penyesuaian, maka perbedaan tersebut diamortisasi secara garis lurus selama
jangka waktu sukuk ijarah.
Beban
ijarah diakui pada saat terutang.
Penghentian pengakuan
liabilitas keuangan
Perusahaan
menghentikan pengakuan liabilitas keuangan, jika dan hanya jika, liabilitas
Perusahaan telah dilepaskan, dibatalkan atau kadaluarsa. Selisih antara jumlah
tercatat liabilitas keuangan yang dihentikan pengakuannya dan imbalan yang
dibayarkan dan utang diakui dalam laba rugi.
2.3 Perlakuan Akuntansi Atas Ekuitas PT Lotte
Chemical Titan Nusantara
Perusahaan
mengelola risiko modal untuk memastikan bahwa mereka akan mampu untuk
melanjutkan keberlangsungan hidup, selain memaksimalkan keuntungan para
pemegang saham melalui optimalisasi saldo utang dan ekuitas. Dewan Direksi
secara berkala melakukan penelaahan struktur permodalan Perusahaan. Sebagai
bagian dari penelaahan ini, Dewan Direksi mempertimbangkan biaya permodalan dan
risiko yang terkait.
Dalam
perjanjian wali amanat obligasi dan sukuk ijarah, Perusahaan diharuskan menjaga
nilai maksimal rasio utang bersih terhadap ekuitas sebesar 2,5 : 1. Rasio utang
bersih terhadap ekuitas Perusahaan pada tanggal 31 Desember 2013 hanya sebesar
0,19 : 1.
Perusahaan
melaksanakan kuasi reorganisasi pada tanggal 30 Juni 2007. Dalam pelaksanaan
kuasi reorganisasi ini, Perusahaan mengurangi modal dasar dan modal disetornya
masing-masing menjadi US$ 515.000.000 dan US$ 128.750.000.
Perusahaan
mengelola risiko modal untuk memastikan bahwa Perusahaan akan mampu untuk
melanjutkan kelangsungan hidup, selain memaksimalkan keuntungan para pemegang
saham melalui optimalisasi saldo utang dan ekuitas.
Perusahaan
mempertahankan modal berdasarkan pada rasio utang bersih terhadap ekuitas.
Rasio ini dihitung dengan utang bersih dibagi dengan total ekuitas.
Rasio
utang bersih terhadap ekuitas Perusahaan dipertahankan pada tingkat yang dapat
dikelola. Perusahaan tidak terikat pada persyaratan modal dari pihak eksternal
manapun. Dalam perjanjian wali amanat obligasi dan sukuk ijarah, Perusahaan
diharuskan untuk menjaga nilai maksimal rasio utang bersih terhadap ekuitas
sebesar 2,5 : 1.
Perhitungan
imbalan pasca kerja menggunakan metode Unit
Credit. Akumulasi keuntungan dan kerugian aktuarial bersih yang belum
diakui yang melebihi 10% dari nilai kini imbalan pasti diakui dengan metode
garis lurus selama rata-rata sisa masa kerja yang diprakirakan dari para
pekerja dalam program tersebut (pendekatan koridor).
2.4 Perlakuan Akuntansi Atas Pendapatan PT
Lotte Chemical Titan Nusantara
Pendapatan
diukur dengan nilai wajar imbalan yang diterima atau dapat diterima. Pendapatan
dikurangi dengan estimasi retur pelanggan, rabat dan cadangan lain yang serupa.
Penjualan Barang
Pendapatan
diakui bila seluruh kondisi berikut dipenuhi:
1. Perusahaan
telah memindahkan risiko dan manfaat secara signifikan kepemilikan barang
kepada pembeli;
2. Perusahaan
tidak lagi melanjutkan pengelolaan yang biasanya terkait dengan kepemilikan
atas barang ataupun melakukan pengendalian efektif atas barang yang dijual;
3. Jumlah
pendapatan dapat diukur dengan andal;
4. Kemungkinan
besar manfaat ekonomi yang terkait dengan transaksi akan mengalir kepada
Perusahaan tersebut; dan
5. Biaya
yang terjadi atau akan terjadi sehubungan transaksi penjualan tersebut dapat
diukur dengan andal.
Pendapatan Komisi
Pendapatan atas
jasa keagenan diakru berdasarkan waktu terjadinya dengan acuan kuantitas produk
yang dijual selama periode yang bersangkutan.
Pendapatan Bunga
Pendapatan
bunga diakru berdasarkan waktu terjadinya dengana cuan jumlah pokok terutang
dan tingkat bunga yang berlaku.
Pendapatan
Operasional Kotor dan Bersih
Kinerja
Perusahaan di tahun 2013 sehubungan dengan Laba Kotor, meningkat sebesar 5,2%
dibandingkan dengan tahun 2012 disebabkan meningkatnya margin spread sebesar 1,4% dan menurunnya conversion cost sebesar 0,8% bagi produk yang diproduksi sendiri.
Namun peningkatan ini termitigasi dengan menurunnya volume penjualan secara
keseluruhan dan kontribusi yang lebih rendak dari aktivitas trading.
Total
pendapatan bersih secara keseluruhan menurun sebesar 4,5% menjadi USD 544,54
juta dibanding USD 570,09 juta di tahun 2012. Pendapatan bersih dari produk
yang diproduksi sendiri sebenarnya meningkat sebesar 3,6% tetapi termitigasi
dengan menurunnya kontribusi dari aktivitas trading.
2.5 Perlakuan Akuntansi Atas Beban PT Lotte
Chemical Titan Nusantara
Beban Pokok Penjualan
secara keseluruhan menurun sebesar 4,6% menjadi USD 536,18 juta dibanding USD
562,14 juta di tahun 2012. Beban Pokok Penjualan untuk produk yang diproduksi
sendiri meningkat sebesar 3,7% disebabkan kenaikan harga material secara
keseluruhan tetapi termitigasi dengan Beban Pokok Penjualan aktivitas trading yang lebih rendah.
Beban
Usaha yang terdiri atas Beban Penjualan dan Beban Umum dan Administrasi menurun
sebesar 16% menjadi USD 11,20 juta dibanding USD 13,30 juta pada tahun 2012.
Beban
Penjualan sebesar USD 7,26 juta yang 4% lebih rendah dibanding USD 7,57 juta di
tahun 2012, seiring dengan menurunnya volume penjualan di tahun 2013.
Beban
Umum dan Administrasi menurun sebesar 31% menjadi USD 3,94 juta dibanding USD
5,73 juta di tahun 2013. Ini terutama disebabkan oleh prgram penghematan yang
dipicu oleh pengendalian biaya dimulai tahun 2012 ditambah dengan dampak
melemahnya nilai tukar Rupiah di tahun 2013.
Beban
bunga dan beban keuangan lainnya meningkat sebesar USD 5,38 juta atau 102%
menjadi USD 10,65 juta dibanding USD 5,27 juta di tahun 2012. Ini terutama
disebabkan oleh kenaikan kerugian atas perubahan nilai wajar transaksi
derivatif dengan perhitungan nilai pasar yang sesungguhnya yang diakibatkan
oleh melemahnya nilai tukar Rupiah di tahun 2013.
Pajak
tangguhan melaporkan Beban Pajak sebesar USD 0,30 juta, menurun dibandingkan
Beban Pajak tahun 2012 sebesar USD 7,27 juta.
Beban
diakui pada saat terjadinya, dengan menggunakan dasar akrual.
BAB
3. PENUTUP
Berdasarkan
analisis yang dilakukan terhadap perlakuan akuntansi atas aset, liabilitas,
ekuitas, pendapatan dan beban pada PT Lotte Chemical Titan Nusantara dapat
disimpulkan bahwa:
1. Perlakuan
akuntansi terhadap aset diakui sebesar pada nilai wajarnya ditambah biaya
transaksi dan selanjutnya diukur pada biaya perolehan, diamortisasi dengan
menggunakan metode suku bunga efektif.
2. Perlakuan
akuntansi terhadap liabilitas diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi
komprehensif dikategorikan dan diukur dengana biaya perolehan diamortisasi
dengan menggunakan metode suku bunga efektif.
3. Perlakuan
akuntansi terhadap ekuitas adalah Perusahaan mempertahankan modal berdasarkan
pada rasio utang bersih terhadap ekuitas. Rasio ini dihitung dengan utang
bersih dibagi dengan total ekuitas.
4. Pendapatan
diukur dengan nilai wajar imbalan yang diterima atau dapat diterima.
5. Beban
diakui pada saat terjadinya, dengan menggunakan dasar akrual.
LAMPIRAN
1.
Titanvene LLDPE menawarkan produk dengan
kekuatan dan ketangguhan tinggi serta kejelasan yang sangat baik dan tingkat
gel rendah untuk berbagai aplikasi film.
2.
Produk Titanvene HDPE sangat terkenal
karena kinerja yang konsisten dan kualitas yang dimilikinya. Mereka menawarkan
kekuatan yang sangat baik, dan dapat digunakan untuk aplikasi film.
DAFTAR
PUSTAKA
Laporan
keuangan “PT Lotte Chemical Titan Nusantara” untuk periode yang berakhir pada
31 Desember 2013.


