Kamis, 28 November 2013

TULISAN PENGANTAR BISNIS 3


TULISAN PENGANTAR BISNIS 3
Judul      : Bisnis Waralaba
Kelas      : 1eb22
Nama     : Anis Setyarini
NPM      : 21213062

 BISNIS WARALABA
I.                     PENDAHULUAN
Pertumbuhan Franchise di Indonesia berawal dari masuknya waralaba asing pada tahun 80-90an. KFC, McDonalds, Burger King, Wendys adalah sebagian dari jaringan waralaba asing yang masuk ke Indonesia pada awal berkembangnya Franchise di Indonesia.
Pada tahun 1991 berdiri Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) sebagai wadah yang menaungi pewaralaba dan terwaralaba. Diharapkan dengan berdirinya AFI ini dapat tercipta industri waralaba yang kuat dan dapat menjadi pendorong utama dalam pertumbuhan ekonomi nasional yang berbasiskan usaha kecil dan menengah.

II.                    ISI 
a.       Pengertian Waralaba
Waralaba atau Franchising menurut AFI adalah suatu sistem pendistribusian barang atau jasa kepada pelanggan akhir, dimana pemilik merek (franchisor) memberikan hak kepada individu atau perusahaan untuk melaksanakan bisnis dengan merek, nama, sistem, prosedur dan cara-cara yang telah ditetapkan sebelumnya dalam jangka waktu tertentu meliputi area tertentu.
b.       Jenis Waralaba
Waralaba dapat dibagi menjadi 2 yaitu :
Ø  Waralaba luar negeri, cenderung lebih disukai karena sistemnya lebih jelas, merek sudah diterima berbagai dunia, dan dirasakan lebih bergengsi.
Ø  Waralaba dalam negeri, juga menjadi salah satu pilihan investasi untuk orang-orang yang ingin cepat menjadi pengusaha tetapi tidak memiliki pengetahuan cukup piranti awal dan kelanjutan usaha ini yang disediakan oleh pemilik waralaba.

c.        Waralaba di Indonesia
         Di Indonesia, kata Franchise ditransalasikan sebagai “Waralaba” (wara=lebih ; laba=untung), jadi waralaba berarti “Lebih Untung”. Pertumbuhan Franchise di Indonesia berawal dari masuknya waralaba asing pada tahun 80-90an. KFC, McDonalds, Burger King, Wendys adalah sebagian dari jaringan waralaba asing yang masuk ke Indonesia pada awal berkembangnya Franchise di Indonesia. Perusahaan-perusahaan waralaba lokal pun mulai bertumbuhan pada masa itu, salah satunya adalah yang termasuk pelopor waralaba lokal yaitu Es Teler 77.
                Pada tahun 1991 berdiri Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) sebagai wadah yang menaungi pewaralaba dan terwaralaba. Diharapkan dengan berdirinya AFI ini dapat tercipta industri waralaba yang kuat dan dapat menjadi pendorong utama dalam pertumbuhan ekonomi nasional berbasis usaha kecil dan menengah (AP).
                Di Indonesia sistem waralaba mulai dikenal pada tahun 1950-an, yaitu dengan munculnya dealer kendaraan bermotor melalui pembelian lisensi. Perkembangan kedua dimulai pada tahun 1970-an, yaitu dengan dimulainya sistem pembelian lisensi plus, yaitu franchisee tidak sekedar menjadi penyalur, namun juga memiliki hak untuk memproduksi produknya.
                Waralaba agar dapat berkembang dengan pesat, maka persyaratan utama yang harus dimiliki 1 teritori adalah kepastian hukum yang mengikat baik bagi franchisor maupun franchisee. Karenanya, kita dapat melihat bahwa di Negara yang memiliki kepastian hukum yang jelas, waralaba berkembang pesat, misalnya di AS dan Jepang.
  Menurut Ketua Asosiasi Franchise Indonesia Anang Sukandar di Jakarta, baru-baru ini, usaha waralaba di Indonesia memiliki tingkat keberhasilan yang cukup tinggi.
  Bisnis Waralaba belakangan mewabah dunia usaha di Tanah Air, terutama kalangan muda yang bermodal kuat. Sebagian pengusaha berpendapat, mengembangkan bisnis ini relatif lebih mudah dibanding memulai bisnis dari nol. Menurut Ketua AFI, usaha waralaba di Indonesia memiliki tingkat keberhasilan yang cukup tinggi.
 Perkembangan waralaba di Indonesia, khususnya di bidang rumah makan siap saji sangat pesat. Hal ini dimungkinkan karena para pengusaha kita yang berkedudukan sebagai penerima waralaba (franchisee) diwajibkan mengembangkan bisnisnya melalui master franchise yang diterimanya dengan cara mencari atau menunjuk penerima waralaba lanjutan,
Di Indonesia waralaba yang berkembang pesat dan masih sangat menguntungkan adalah waralaba di bidang makanan (Wong Solo, Sapo Oriental, CFC, Hop Hop, Red Crispy, Papa Ron, dsb).
Waralaba berbentuk retail mini outlet (Indomaret, Yomart, Alfamart) banyak menyebar ke pelosok kampong dan pemukiman padat penduduk.
Di bidang Telematika atau Information & Communication Technology, juga mulai diminati pada 3 tahun terkhir ini berkembang beberapa bidang waralaba seperti distribusi tinta printer refill / cartridge (Inke, X4Print, Veneta, dll), pendidikan komputer (Widyaloka, Binus), distribusi peralatan komputer (Micronics Distribution), Warnet / NetCafe (Multiplus, Java NetCafe, Net Ezy), Kantor Konsultan Solusi JSI, dll.
Waralaba yang juga menguntungkan di bidang pendidikan (Science Buddies, ITutorNet, Primagama) terutama zaman bermain(SuperKids) dan taman kanak-kanak (Townfor Kids, Kids2success, Fastract Kids), pendidikan bahasa inggris (ILP, Direct English, English First) dll.
Perkembangan merek dan waralaba dalam negericukup pesat dan pada pameran franchise di tanah air terlihat banyak merek nasional Indonesia bersaing dengan merek global dan regional.

III.                  PENUTUP
Franchise adalah pemberian sebuah lisensi oleh seseorang (Franchisor) kepada pihak lain (Franchise). Lisensi tersebut memberi hak kepada franchise untuk menggunakan merek dagang franchisor dan sebuah elemen yang diperlukan untuk menjalankan bisnisnya dengan dasar-dasar yang telah ditentukan sebelumnya.
Waralaba saat ini lebih didominasi oleh waralaba rumah makan siap saji. Kecenderungan ini dimulai pada tahun 1919 ketika A&W Root Beer membuka restaurant cepat sajinya. Pada tahun 1935, Howard Deering Johnson bekerja sama dengan Reginald Sprague untuk memonopoli usaha restaurant modern. Gagasan mereka adalah membiarkan rekanan mereka untuk mandiri menggunakan nama yang sama, makanan, persediaan, logo, dan bahkan membagus desain sebagai pertukaran dengan suatu pembayaran. Dalam perkembangannya, sistem bisnis ini mengalami berbagai penyempurnaan terutama di tahun 1950-an yang kemudian dikenal menjadi waralaba sebagai format bisnis (business format) atau sering pula disebut sebagai waralaba generasi kedua.

IV.                 DAFTAR PUSTAKA 
·         e-book :
Judul                      : Manajemen Bisnis Waralaba
Pengarang            : Sonny Sumarsono

Tidak ada komentar:

Posting Komentar